Jadi Tulang Punggung Keluarga, Penjual Nasi Goreng Asal Poncol Berhasil Lulus Cumlaude Di UMPP

PEKALONGAN, UMPP — Irawan yang mencukupi pendidikan melalui jualan nasi goreng sejak SMP, kini lulus dengan predikat Coumlaude sebagai Sarjana di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP).

Irawan diwisuda pada (14/10) sebagai Sarjana Pendidikan Jasmani UMPP. Sosok yang dikenal santun dan pendiam ini bisa dibilang tidak mudah untuk bisa mencapai gelar akademiknya saat ini. Sebab untuk mencukupi biaya pendidikannya, dia berjualan nasi goreng bahkan sejak kelas 2 SMP.

Tak hanya untuk dirinya, uang hasil jualan nasi goreng yang didapatkannya juga untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Profesi sebagai penjual nasi goreng ini dia lakoni untuk menggantikan ayahnya yang terkena stroke.

“Untuk saya jualan nasi goreng itu sejak saya waktu duduk di kelas SMP kelas 2. Waktu itu saya berjualan nasi goreng karena terkendala dari orang tua saya sendiri dan ikut bantu,” kata Irwan.

Ayahnya telah menderita stroke selama sekitar delapan tahun. Sejak kondisi sang ayah menurun, Irwan mengambil alih usaha nasi goreng yang sebelumnya mereka jalankan bersama.

Setiap hari Irwan menggelar lapak nasi gorengnya di depan RS Siti Khodijah Kota Pekalongan. Penghasilan dari usaha tersebut digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga sekaligus membayar biaya kuliahnya di UMPP.

Irwan Mengambil Kelas Reguler di UMPP dengan Usaha Sendiri

Rutinitas hariannya pun cukup padat. Pagi hingga sore, ia mengikuti perkuliahan. Menjelang gelap ia bersiap berjualan nasi goreng. Dimulai setelah maghrib hingga pukul 02.00 atau 03.00. Waktu istirahatnya menjadi sangat terbatas karena keesokan harinya ia harus kembali mengikuti perkuliahan.

Ia mengaku hanya tidur sekitar empat jam sehari. Jika ada jeda di antara jadwal kuliah, waktu tersebut dimanfaatkan untuk beristirahat sebelum kembali menjalani aktivitas berikutnya.

Selain berjualan nasi goreng, Irwan juga bekerja sebagai pelatih renang di Kabupaten Batang. Pekerjaan ini sudah dijalankan selama dua hingga tiga tahun, di antaranya di kolam renang THR Kramat Batang dan kolam renang Disparpora Batang.
Penghasilan dari melatih renang menjadi tambahan ketika pendapatan dari berjualan nasi goreng sedang tidak menentu. Dua pekerjaan itu ia jalani sembari berusaha menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Sempat Ingin Menyerah karena Biaya Kuliah

Perjalanan Irwan menyelesaikan pendidikan tinggi bukan tanpa hambatan. Ia mengaku sempat terpikir untuk berhenti kuliah ketika memasuki semester pertama karena biaya pendidikan yang harus dibayarkan cukup tinggi.

“Awal-awal semester satu itu sempat mau menyerah karena UKT-nya cukup tinggi. Akhirnya saya mencicil dan tetap melanjutkan kuliah,” tuturnya.

Ia memilih bertahan. Di tengah kesibukan berjualan dan bekerja sebagai pelatih renang, Irwan tetap berusaha mengikuti perkuliahan serta menyelesaikan tugas-tugas akademiknya.

Tantangan juga muncul ketika harus mengerjakan skripsi. Ia perlu membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan penyusunan tugas akhir. Untuk menunjang pengerjaan skripsi, ia bahkan membeli laptop sendiri.

Dalam perjalanan itu, Irwan mengaku mendapat dukungan dari keluarga. Orang tua dan saudara-saudaranya turut membantu ketika ia menghadapi kekurangan biaya maupun kebutuhan selama kuliah.

Dukungan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya terus melangkah hingga menyelesaikan pendidikan. Kini, setelah menempuh kuliah selama 3,5 tahun, Irwan berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude.

Dosen Bangga dengan Perjuangan Irwan

Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani UMPP, Riski Aditya, mengaku bangga atas pencapaian mahasiswanya tersebut. Menurut dia, Irwan mampu menunjukkan kesungguhan dalam menjalani pendidikan meskipun harus bekerja untuk membantu keluarganya.

Riski mengetahui Irwan berjualan nasi goreng pada malam hari setelah menyelesaikan aktivitas kuliah. Usaha itu dilakukan untuk membantu membayar biaya pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.

“Nilai-nilainya untuk Irwan ini cukup rajin dan nilai-nilainya cenderung bagus semuanya. Selain itu, dia memiliki kompetensi di bidang wasit renang,” ujar Riski.
Bagi Riski, keberhasilan Irwan menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude patut diapresiasi. Ia menilai perjuangan mahasiswa yang harus membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan membutuhkan ketekunan.

“Saya sebagai kepala prodi, sebagai dosennya, sangat bangga dan memberikan apresiasi atas perjuangan mahasiswa-mahasiswa kami yang sangat luar biasa,” katanya.

Riski juga menyampaikan bahwa pihak kampus turut membantu Irwan menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Namun, di balik dukungan tersebut, Irwan tetap harus menjalani sendiri rutinitas yang padat antara kuliah dan bekerja.

Setelah lulus, Irwan ingin mewujudkan cita-citanya menjadi guru olahraga. Ia pernah bekerja sebagai guru olahraga di SDN Poncol 2. Pengalaman mengajar dan keterampilannya di bidang olahraga renang menjadi bekal untuk menekuni profesi tersebut.

Ia mengingatkan bahwa menjalani dua tanggung jawab sekaligus memang tidak mudah. Namun, menurut dia, keinginan untuk menyelesaikan pendidikan perlu dijaga dengan usaha dan doa.

Bagi Irwan, wisuda kali ini bukan sekadar akhir dari perjalanan kuliah. Kelulusan itu menjadi bagian dari perjuangannya membantu keluarga sekaligus membuka jalan untuk meraih cita-cita yang selama ini ia usahakan.

Kutipan Al-Quran :

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya bershaf-shaf (bersusun, berbaris-baris) seolah mereka adalah bangunan yang tersusun kokoh." (As-Shaff : 4)

Berita Lain